Yuk Simak Kisah Asli Polwan Cantik Penembak Jitu Ternyata… ??

0
118

PROFESI Polisi Wanita (Polwan) sudah biasa bagi perempuan Indonesia saat ini, juga bagi perempuan Aceh yang terkenal dengan srikandinya, Tjut Nya’ Dhien, Tjut Mutia dan lain-lain. Namun tentu akan sangat spesial jika ada Polwan yang berjuluk sniper alias penembak jitu. Terlebih lihai juga mengemudikan kendaraan perang yang disebut wolf atau tank.

Dialah Tiwi, nama kecil dari Sarasti Pertiwi yang jadi pembicaraan saat momen Hari Polwan ke-68, 1 September 2016 lalu.

Dara manis kelahiran Wihni Bakong Kecamatan Silihnara, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah 16 Mei 1995 yang bertugas di Detasemen Gegana Aceh setelah lulus polisi tahun 2014 ini didaulat sebagai juara 1 menembak menggunakan revolver dalam rangka HUT Polwan ke-68. Dia menyisihkan peserta lain yang terdiri dari polisi umum, Brimob, serta pejabat-pejabat dirlantas Polda Aceh.

Dalam momen itu, Polwan berpangkat Bripda ini juga sebagai juara 1 menembak menggunakan styer yang khusus untuk kalangan Brimob.

Satu lagi, putri sulung dari sepasang suami istri petani kopi Gayo (pasangan Sopian dan Ainaini) ini adalah Polwan satu-satunya yang mahir mengemudikan mobil wolf atau tank alias mobil perang di jajaran Polda Aceh.

Dan walaupun wanita, sejak bertugas Tiwi selalu mengikuti atau disertakan dalam setiap operasi Brimob yang tentunya penuh tantangan dan risiko, butuh skill selain ketangguhan mental dan fisik.

Sarasti Pertiiwi saat jadi siswa SUPM Ladong Aceh. (foto: doc. Tiwi)
Sarasti Pertiiwi saat jadi siswa SUPM Ladong Aceh. (foto: doc. Tiwi)

Sebelum diterima sebagai Polwan, alumni SMPN 3 Silihnara Aceh Tengah ini mengenyam pendidikan di Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Ladong Aceh. Bukan karena ingin menjadi praktisi atau pengusaha bidang perikanan, tapi lebih karena pola pendidikan di SUPM yang didengarnya dari seorang gurunya di SMP semi militer.

Semasa di SUPM inilah dia aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, terutama Pramuka. Sarasti ikut kegiatan Pramuka di Aceh seperti di Seulawah, Saree, Jantho, Darussalam dan lain-lain. Bahkan saat duduk di kelas 2, Sarasti ikut Pramuka keliling Indonesia selama 1 bulan penuh melalui jalur laut menggunakan kapal Rumah Sakit terbesar di Asia, KRI Soeharso. Sarasti mewakili Aceh dalam kegiatan tersebut.

Keahliannya bukan hanya menembak, dia jago berenang walau tidak pernah turut serta dalam event kejuaraan renang profesional. Dan sejak bertugas sebagai Polwan, Sarasti juga mendapat tugas sebagai tim penyelamat saat seleksi Polri di jajaran Polda Aceh.

Sarasti Pertiwi dengan anjing pelacak. (Foto: doc. Tiwi)
Sarasti Pertiwi dengan anjing pelacak. (Foto: doc. Tiwi)

Dan saat dalam pendidikan Polwan, bukan maksud Sarasti menyombongkan diri, dia ternyata sebagai pejabat siswa tertinggi kedua dari 1000 siswa Polwan.

“Prestasi yang sudah saya peroleh saya ungkapkan bukan untuk membanggakan diri sendiri, tapi untuk memotivasi adik-adik jika kita bisa berprestasi sejauh kita mau dan terus berupaya,” ungkap Tiwi. Sebagai polisi, dirinya ingin berkarir setinggi-tingginya, namun sebelumnya ada satu keinginan yang diidam-idamkan yakni bertugas ke luar negeri, di Sudan, bergabung dengan senior-seniornya.

“Saya ingin sekali ditugaskan ke Sudan, bergabung dengan tim elit Makokorp Brimob yang di Pusat. Tujuannya agar memperoleh pengalaman lebih. Saya ingin tau bagaimana sistem militer di luar negeri,” ungkapnya bersemangat.

Ditanya apakah ada keinginannya melanjutkan pendidikan kepolisian, Akademi Polisi (Akpol), Tiwi menjawab tentu saja ingin, namun aturan tidak memungkinkan kecuali setelah ikut Secapa. Tentang rencana berkeluarga, Sarasti malah belum kepikiran. Dia ingin selesaikan dulu kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Banda Aceh yang sudah dijalaninya hingga Semester 3.

“Siang saya bertugas sebagai Polwan, malam hari saya kuliah,” ungkap Tiwi.

Lalu apa pesan Tiwi kepada adik-adik dibawahnya, terkhusus perempuan. “Cobalah untuk memulai, memperbaiki dan membuat segala hal yang membuat diri sendiri dan orang lain menjadi lebih berkualitas, dinamislah, jangan jalan di tempat dalam segala hal positif,” kata Sarasti.

Diakhir perbincangan, Tiwi mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendidik dan mendukungnya hingga menggapai cita-cita. Demikian juga kepada individu-individu yang telah memperjuangkan dan menggiring generasi muda dalam menggapai prestasi nasional dan internasional dalam segala bidang, baik itu olahraga ataupun pendidikan.

Tomboy alias Ipak Rawan
Panggilan ini sempat disandang Tiwi semasa kecil hingga tamat SMP. Ipak Rawan merupakan sebutan untuk anak gadis Gayo yang tomboy (ipak: anak perempuan, rawan: laki-laki). Sang ibu tentu orang yang paling khawatir dengan keadaan ini. Tiwi pembawaannya beda dengan anak-anak perempuan lain.

Sarasti Pertiwi dengan ibundanya, Ainaini. (foto : doc. Tiwi)
Sarasti Pertiwi dengan ibundanya, Ainaini. (foto : doc. Tiwi)

Herannya, Tiwi justru terlihat feminim saat sudah jadi Polwan, walau dibungkus sangarnya seragam perang dan memanggul senjata.

“Saya hanya orang biasa, berprofesi guru bersuamikan petani, bingung dan kehilangan akal menghadapi tingkah Tiwi, sering tersebut dari mulut saya ipak rawan untuk anak saya tersebut,” ungkap Ainaini, ibu Tiwi.

Selaku ibu, wajar Ainani pangling, Tiwi kecil kalau bermain-main tidak seperti anak perempuan kebanyakan. Tiwi malah melakoni permainan anak laki-laki umumnya yang berlatar anak petani kopi Gayo. Tiwi kecil bisa memanjat pohon, menangkap burung, bahkan menangkap ikan di sungai.

“Hampir setiap hari Tiwi saya omeli, tapi dia tidak pernah melawan. Pun begitu, syukurlah prestasi sekolahnya saat di SD dan SMP sangat memuaskan,” tutur Ainaini.

Dan memilih SUPM Ladong untuk Tiwi, menurutnya adalah karena penerapan disiplin serta pendidikan semi meliter di sekolah tersebut. “Alhamdulillah Tiwi merasa senang dan selesai tanpa masalah,” kenang Ainaini. Saat Tiwi minta ikut seleksi jadi Polwan, Ainaini mengaku sangat keberatan karena seleksinya sangat ketat. Namun ternyata Tiwi berhasil lolos satu demi satu tahapan seleksi, hingga akhirnya ikut dilantik sebagai Polwan.

Belum lagi puas menikmati kelegaan, Tiwi kembali bikin jantungan sang ibu, saat menyatakan memilih menjadi anggota Gegana. “Saya sudah sangat puas jika Tiwi jadi Polwan biasa, saya sangat tidak merestui pilihannya sebagai anggota Gegana,” kata Ainani. Alasannya, jika ada perang, dalam pikiran Ainaini tentu Gegana yang terdepan.

Tiwi bersikukuh dengan pilihannya, dari puluhan Polwan yang mengajukan diri, dirinya terpilih menjadi anggota Gegana. Dia tetap berupaya meyakinkan sang ibu atas pilihannya. Seiring berjalannya waktu dan setelah tanya sana-sini, akhirnya Ainaini bisa menerima pilihan Tiwi.

“Anak saya itu memang sering kali bikin saya kaget-kaget senang beraduk khawatir, dan saya sekarang percaya penuh kepadanya. Saya ikhlas dan mendukung apapun pilihan Tiwi,” kata Ainani terbata-bata menahan haru.

Di balik kebanggaan segudang prestasi anaknya, ibu ini menegaskan tidak bangga dan bahagia jika anaknya tinggi hati, tidak bersyukur dan meninggalkan shalat 5 waktu. “Prestasi juga ujian, jangan angkuh dan sombong, tidak berarti apa-apa jika tidak bersyukur, jangan lalai menunaikan shalat,” pesan Ainaini menutup penuturannya.

Semangat dan selamat buat Sarasti Pertiwi, semoga menjadi inspirasi dan teladan bagi anak-anak petani lainnya. Ada kemauan ada jalan, itu pasti![]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here